Indonesia Jadi Pusat Restorasi Lahan Gambut dan Solusi Iklim Berbasis Alam
Pendahuluan
Tahun 2025 menandai momentum penting bagi Indonesia dalam arena lingkungan global. Di tengah tekanan internasional untuk mempercepat aksi perubahan iklim, pemerintah Indonesia memilih untuk menempatkan restorasi lahan gambut sebagai salah satu pilar utama strategi iklim nasional. Program yang digulirkan itu bukan sekadar penghijauan ulang atau penanaman pohon belaka, tetapi merangkul konsep “solusi berbasis alam” (nature-based solutions) yang menggabungkan aspek lingkungan, sosial, dan ekonomi. Artikel ini menghadirkan analisis mendalam, opini kritis, serta refleksi terhadap implikasi strategi tersebut dari peluang besar hingga tantangan struktural yang harus dihadapi.

Latar Belakang
Mengapa Lahan Gambut?
Lahan gambut di Indonesia memiliki peran yang sangat besar dalam sistem iklim global dan lokal. Gambut adalah cekungan organik yang menyimpan karbon dalam jumlah sangat besar. Jika rusak atau terbakar, ia akan melepaskan karbon dalam jumlah besar ke atmosfer, mempercepat pemanasan global. Tahun ini, melalui forum internasional dan konferensi ilmiah, Indonesia menegaskan bahwa restorasi gambut bukan hanya soal ekologi, tetapi bagian dari strategi nasional menuju ketahanan iklim.
Salah satu fakta penting: dalam 10 tahun terakhir pemerintah melaporkan telah mengembalikan kembali jutaan hektar termasuk lahan gambut yang “direwetting” (dikembalikan kondisinya agar tetap basah). Melalui kerangka pengukuran berbasis unit hidrologi gambut (KHG) dan sistem pemantauan digital, pemerintah mengklaim telah membawa perubahan paradigma dari eksploitasi ke pemulihan ekosistem.
Komitmen Nasional dan Internasional
Indonesia telah menetapkan target pengurangan emisi gas rumah kaca secara mandiri dan melalui dukungan eksternal. Sektor kehutanan dan penggunaan lahan (FOLU) menjadi fokus utama karena kontribusinya yang besar terhadap emisi nasional. Di sisi lain, era krisis iklim menuntut agar solusi iklim dipadukan dengan hak masyarakat, ekonomi hijau, dan keberlanjutan sosial bukan hanya teknis operasional.
Dalam konteks ini, pengembangan solusi berbasis alam membantu memperjelas bahwa aksi iklim di Indonesia tidak hanya soal pembangkit listrik atau energi terbarukan, tetapi soal ekosistem, masyarakat lokal, dan model pembangunan yang berubah. Dengan demikian, strategi gambut ini menjadi semacam laboratorium nasional sekaligus panggung global bagi Indonesia.
Analisis Strategi Restorasi Gambut
Fokus dan Pilar Utama
Strategi restorasi gambut di Indonesia memiliki beberapa pilar utama. Pertama, digitalisasi dan pemantauan melalui sistem seperti SiPPEG untuk mengetahui kondisi lahan gambut secara real-time dan mengambil tindakan cepat. Kedua, pemulihan kondisi hidrologis, misalnya dengan pemasangan blok kanal, pengembalian muka air gambut, dan reintroduksi spesies asli. Ketiga, penguatan kapasitas masyarakat lokal melalui program desa mandiri peduli gambut (DMPG) agar mereka bukan hanya objek proyek tetapi aktor aktif dalam pengelolaan. Keempat, pengembangan ekonomi hijau berbasis masyarakat inovasi seperti usaha madu kelulut, kerajinan serat alam, ekowisata berbasis gambut.
Dari segi dampak, data pemerintah menyebutkan bahwa lebih dari 24 juta hektar lahan telah dipulihkan dalam dekade terakhir, termasuk lebih dari 4 juta hektar gambut yang telah direwetting. Ini menunjukkan skala yang sangat besar dan bahwa program tersebut bukan sekadar pilot kecil, tetapi upaya nasional besar.
Peluang yang Muncul
Restorasi gambut membawa sejumlah peluang strategis:
- Mitigasi emisi: Dengan menjaga lahan gambut tetap basah dan ekosistemnya utuh, emisi yang seharusnya dilepas bisa dihindari, membantu pencapaian target nasional pengurangan gas rumah kaca.
- Ketahanan sosial-ekonomi: Ketika masyarakat lokal diberi akses, pelatihan, dan partisipasi dalam pengelolaan gambut, maka selain aspek lingkungan, aspek kesejahteraan dan keadilan sosial dapat diperkuat.
- Inovasi ekonomi hijau: Restorasi memberikan ruang bagi munculnya usaha-usaha baru berbasis alam, kerajinan, ekowisata, yang bisa memberikan alternatif ekonomi terhadap kegiatan yang merusak lingkungan seperti pembukaan hutan.
- Keunggulan diplomasi dan citra global: Indonesia bisa memperkuat posisi sebagai pemimpin iklim di kawasan tropis, menunjukkan bahwa negara berkembang pun bisa mengambil langkah besar dalam solusi iklim.
Tantangan dan Risiko
Meski penuh potensi, strategi ini tidak tanpa hambatan serius:
- Pembiayaan dan implementasi: Skala besar memerlukan dana besar, mekanisme penyediaan dana yang berkelanjutan, dan tata kelola yang kuat. Jika dana atau pengawasan lemah, maka proyek bisa stagnan atau malah gagal mencapai hasil.
- Konflik lahan dan hak masyarakat: Banyak lahan gambut berada di wilayah adat atau dimanfaatkan masyarakat lokal secara tradisional. Jika partisipasi masyarakat dan mekanisme hak atas lahan tidak diatur dengan baik, maka konflik akan muncul dan program bisa kehilangan legitimasi sosial.
- Pengukuran dan verifikasi: Meski sistem pemantauan digital sudah dibangun, tantangan teknis tetap ada khususnya di daerah terpencil dan berbasis masyarakat. Validitas data, cakupan tindakan, serta tanggung jawab pihak pelaksana perlu terus diperkuat.
- Transfer ekonomi dari praktik merusak ke praktik restorasi: Banyak masyarakat dan pelaku ekonomi yang selama ini mengandalkan pembukaan lahan atau kegiatan yang tidak berkelanjutan. Mengalihkan mereka ke usaha hijau membutuhkan waktu, insentif, dan dukungan transisi yang nyata.
Implikasi Lebih Luas bagi Lingkungan dan Kebijakan
Untuk Kebijakan Energi dan Industri
Meskipun fokus utama adalah ekosistem gambut dan solusi berbasis alam, implikasinya juga menyentuh sektor energi dan industri. Restorasi gambut yang berhasil berarti risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) bisa berkurang yang selama ini menjadi penyumbang besar emisi nasional dan polusi udara lintas batas. Dengan aliran karbon yang lebih kecil dari lahan rusak, tekanan pada sektor energi untuk mengurangi beban emisi akan sedikit terkurangi. Namun hal itu tidak menggantikan kebutuhan besar untuk transisi energi terbarukan dan pengurangan ketergantungan bahan bakar fosil.
Untuk Tata Kelola dan Reformasi Institusi
Program restorasi membutuhkan sinergi antara kementerian/lembaga, pemerintah daerah, masyarakat adat, sektor swasta dan organisasi masyarakat sipil. Ini menuntut integrasi lintas sektoral: kehutanan, lingkungan, agraria, ekonomi, hingga keuangan. Reformasi institusi menjadi penting: mulai dari digitalisasi, transparansi data, hingga mekanisme akuntabilitas yang jelas. Bila tidak, program bisa menjadi “proyek besar” yang hanya menghasilkan laporan bagus, tetapi realitas di lapangan kurang terasa.
Untuk Adaptasi Perubahan Iklim dan Ketahanan Lokal
Selain mitigasi (pengurangan emisi), restorasi gambut juga memiliki aspek adaptasi: lahan gambut yang sehat membantu menahan air, mengurangi banjir dan kebakaran, serta mempertahankan keanekaragaman hayati yang penting dalam menghadapi perubahan iklim. Di daerah-rawan seperti Kalimantan dan Sumatra, tempat banyak lahan gambut, program ini bisa meningkatkan ketahanan masyarakat terhadap bencana alam dan iklim ekstrem membantu ketika hujan ekstrem, kekeringan panjang atau kebakaran lahan terjadi.
Opini: Apakah Indonesia Sudah Jelangkah?
Sebagai jurnalis yang telah lama mengikuti isu lingkungan dan iklim, saya melihat bahwa Indonesia berada di persimpangan penting: antara peluang besar untuk menjadi model pembangunan hijau tropis, dan risiko terjebak dalam jalan yang tampak “baik di kertas” tapi tertinggal di implementasi.
Hal yang Menguatkan Keyakinan
- Skala program yang besar: bahwa restorasi dilakukan tidak hanya sebagai pilot, tetapi sebagai aksi nasional ini menunjukkan bahwa pemerintah melihat isu ini dengan prioritas tinggi.
- Keterlibatan masyarakat lokal: program-desa mandiri peduli gambut menegaskan bahwa bukan hanya “top-down” tetapi ada elemen partisipasi masyarakat ini kunci agar program berkelanjutan.
- Integrasi aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan: restorasi gambut bukan hanya soal pohon, tetapi soal hak masyarakat, peluang ekonomi hijau, dan keadilan lingkungan ini selaras dengan paradigma pembangunan berkelanjutan yang modern.
Hal yang Perlu Diwaspadai
- Ambisi besar seringkali disambut dengan ekspektasi cepat namun kenyataannya di lapangan sering muncul hambatan teknis, pendanaan, dan konflik lahan. Jika tidak dikelola, maka kegagalan kecil bisa memicu skeptisisme terhadap seluruh program.
- Kecepatan pelaksanaan bisa menjadi musuh jika tidak diimbangi dengan pengawasan dan partisipasi publik yang memadai. Transparansi sangat penting agar masyarakat dan pengamat bisa melihat kemajuan nyata, bukan hanya angka bagus.
- Faktor ekonomi lama (misalnya sawit, pembukaan hutan) masih sangat kuat di Indonesia. Transisi dari ekonomi ekstraktif ke ekonomi hijau memerlukan insentif, regulasi, dan keberanian politik yang konsisten tanpa hal ini, restorasi hanya menjadi bungkus bagi skema yang sama seperti sebelumnya.
Rekomendasi Kebijakan dan Tindakan
- Memastikan dana dan insentif yang berkelanjutan: Restorasi gambut memerlukan jangka panjang. Pemerintah perlu menjamin alokasi dana, insentif ekonomi untuk masyarakat lokal, dan mekanisme pasar karbon atau pembayaran berbasis hasil (result-based payment) yang jelas.
- Pengakuan hak masyarakat dan keterlibatan yang nyata: Masyarakat adat dan desa yang berada di kawasan gambut harus diberikan hak atas tanah, keterlibatan penuh dalam pengambilan keputusan, serta manfaat ekonomi yang adil dari program restorasi.
- Penguatan kapasitas lokal dan teknologi: Perlu pelatihan terhadap masyarakat lokal, penggunaan teknologi pemantauan (misalnya SiPPEG), dan pengembangan ekonomi hijau lokal agar restorasi juga menciptakan lapangan kerja.
- Transparansi dan akuntabilitas data: Pemerintah dan mitra harus menyediakan data terbuka tentang progres restorasi, kondisi lahan, dan dampak nyata terhadap emisi dan ekosistem agar pengamat publik dan masyarakat bisa ikut memantau.
- Integrasi dengan transisi energi dan ekonomi hijau: Restorasi lahan gambut hendaknya menjadi bagian dari strategi yang lebih besar: transisi dari fosil ke terbarukan, pengurangan ketergantungan pada pembukaan lahan, dan pengembangan ekonomi berbasis sumber daya alam yang lestari.
Kesimpulan
Strategi restorasi lahan gambut yang digulirkan Indonesia tahun ini bukan hanya sekadar proyek lingkungan ia adalah deklarasi bahwa Indonesia siap mengambil peran aktif dalam era baru pembangunan hijau tropis. Bila dikelola dengan baik, program ini bisa menjadi titik balik: dari negara tropis yang sering dikritik karena deforestasi dan kebakaran lahan, menjadi negara yang dianggap sebagai pemimpin solusi iklim berbasis alam.
Namun, keberhasilan bukan ditentukan hanya oleh ambisi atau target besar, melainkan oleh detail pelaksanaan, partisipasi masyarakat, keberlanjutan ekonomi, dan integritas institusi. Pilihan sekarang akan menentukan apakah program ini menjadi contoh global atau hanya menjadi catatan bagus di atas kertas.
Bangsa ini berdiri di persimpangan: apakah kita akan memilih pembangunan yang berkelanjutan, adil, dan berwawasan ke masa depan atau kembali ke jalan lama yang mengorbankan ekosistem demi pertumbuhan jangka pendek. Restorasi gambut memberi kita kesempatan mari kita manfaatkan dengan bijak, bersama.