Demo BEM USU di DPRD Sumut Memanas, Tuntut Evaluasi Program Pemerintah secara Serius

MEDAN – Ratusan mahasiswa dari Badan Eksekutif Mahasiswa Universitas Sumatera Utara (BEM USU) menggelar demonstrasi di depan Gedung DPRD Sumatera Utara, Jalan Imam Bonjol, Medan, pada Senin (15/6/2026). Aksi yang dimulai siang hari tersebut berlangsung dalam suasana yang memanas, bahkan terjadi insiden saling dorong antara para mahasiswa dan aparat kepolisian yang berjaga di pintu masuk gedung dewan.
Aksi Demonstrasi Mahasiswa
Mahasiswa yang mengenakan almamater berwarna hijau tiba di lokasi sekitar pukul 14.24 WIB dengan membawa beragam spanduk dan poster yang mencolok, seperti yang bertuliskan “Menuju Indonesia Gagal”. Setibanya di depan Gedung DPRD Sumut, mereka langsung menggelar mimbar bebas untuk menyampaikan berbagai tuntutan yang berkaitan dengan masalah ekonomi, pendidikan, serta kebijakan nasional yang dianggap tidak berpihak kepada masyarakat.
Ketegangan antara Massa dan Aparat
Ketegangan mulai muncul ketika mahasiswa mendesak agar Ketua DPRD Sumut hadir secara langsung untuk menerima aspirasi mereka. Namun, pihak pimpinan DPRD tidak berada di lokasi. Meskipun salah seorang Wakil Ketua DPRD Sumut sempat menemui massa dari balik pagar, mereka tetap menolak dan bersikeras meminta kehadiran Ketua DPRD di tengah aksi.
Tindakan Mahasiswa dan Respons Keamanan
Situasi semakin memanas ketika beberapa mahasiswa berupaya mendekati area dalam Gedung DPRD Sumut. Aparat kepolisian yang bertugas menjaga keamanan berusaha mencegah mereka, yang menyebabkan terjadinya aksi saling dorong di pintu gerbang utama gedung.
Tuntutan Mahasiswa
Dalam aksi tersebut, mahasiswa menyampaikan beberapa tuntutan kepada pemerintah, antara lain:
- Menjaga stabilitas harga bahan bakar minyak (BBM).
- Melakukan evaluasi atau bahkan menghentikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
- Mendorong transparansi anggaran pendidikan serta pengelolaan APBN dan APBD.
- Menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
- Menolak revisi Undang-Undang Polri dan meminta penyelesaian konflik agraria serta isu lingkungan hidup.
Kondisi Ekonomi yang Mengkhawatirkan
Mahasiswa juga menyoroti kondisi ekonomi nasional yang semakin berat. Mereka mencatat bahwa pelemahan nilai tukar rupiah berimbas pada kenaikan harga kebutuhan pokok yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Selain itu, mereka mempertanyakan realisasi sejumlah program pemerintah, termasuk janji penciptaan lapangan kerja yang dianggap belum memberikan dampak signifikan.
Pemimpin Aksi dan Aspirasi Mahasiswa
Aksi demonstrasi ini dipimpin oleh Ketua BEM USU, Angga Al-Maaris Harahap. Dalam orasinya yang disampaikan dari atas mobil komando, Angga menegaskan bahwa aksi turun ke jalan ini dilakukan sebagai bentuk kekecewaan atas berbagai kebijakan pemerintah yang dianggap belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Pentingnya Suara Rakyat
“Kami hadir untuk menyampaikan aspirasi rakyat. Jalur audiensi yang selama ini ditempuh tidak lagi efektif, sehingga mahasiswa harus turun langsung ke jalan,” tegas Angga di hadapan massa aksi, menyoroti urgensi dari kehadiran mereka.
Simbolik Aksi Teatrikal
Sebagai bentuk kritik terhadap kondisi sosial yang sedang berlangsung, mahasiswa juga menggelar aksi teatrikal di tengah jalan. Teatrikal ini menggambarkan simbol matinya keadilan bagi rakyat dan menjadi salah satu sorotan dalam jalannya demonstrasi.
Ketegangan Kembali Meningkat
Suasana sempat kembali kondusif, namun ketegangan muncul lagi ketika massa mendesak untuk masuk ke area Gedung DPRD Sumut yang dijaga ketat oleh aparat keamanan. Barikade kawat berduri yang dipasang di sekitar gerbang utama membuat mahasiswa dan aparat kembali terlibat dalam aksi saling dorong.
Pengamanan yang Diperketat
Untuk mengantisipasi potensi gangguan keamanan, Polrestabes Medan mengerahkan sebanyak 620 personel gabungan dari TNI dan Polri. Akibat padatnya massa di badan jalan, arus lalu lintas di kawasan Jalan Imam Bonjol dan sekitar Lapangan Benteng sempat dialihkan ke sejumlah ruas jalan alternatif guna mengurangi kemacetan.
Dukungan dari Berbagai Kalangan
Aksi demonstrasi BEM USU juga mendapat dukungan dari beberapa kelompok masyarakat dan mahasiswa dari perguruan tinggi swasta di Kota Medan. Meskipun sempat berlangsung tegang, massa akhirnya membubarkan diri secara tertib menjelang sore setelah menyampaikan seluruh tuntutannya.



